About Me

My photo
I'm just ordinary woman who really loves reading and writing :)

Thursday, April 2, 2015

Tentang Kelahiran Buah Hatiku 3

April 02, 2015 0 Comments
Dua jam aku berada di ruang "penenangan diri" itu, aku pun ditransfer ke kamar pasien.
Kamar itu meski ber-AC namun terasa panas, keringatku mengucur deras bagai orang mandi.
Jam-jam pertama aku lalui dengan tenang, tanpa rasa sakit pasca operasi, hanya merasakan kaku saja di tubuh bagian bawah, mungkin anestesinya belum hilang.
Melihat kondisiku baik-baik saja, Bapak dan Ibu pamit pulang, tinggallah aku berdua saja dengan suami.
Bayi kami sementara ditempatkan di ruang bayi sampai kondisiku stabil.
Tak lama, aku mulai merasakan kesemutan di kakiku, aku mulai bisa sedikit menggerak-gerakkan kakiku.
Ah, pengaruh biusnya mulai hilang perlahan... dan ternyata, mulai detik itu pula aku mulai merasakan nyeri-nyeri di jahitan sesarku.
Ah, bukan hanya nyeri luar tapi nyeri dalam juga, nyeri yang sulit digambarkan seperti apa, tapi mungkin seperti sakit sayatan, ya.. tentu saja!
Waktu itu jam menunjukkan pukul 2 siang, ya sekitar itu aku rasa...
dan aku belum tidur sejak kemarin siang, rasanya tubuhku begitu lelah dengan segala yang terjadi pada 24 jam terakhir... mata belum juga sempat memejam...
tiba-tiba saja, sakitnya menyerang bertubi-tubi meski datang dan menghilang...
saat sakit itu datang, mata ini serasa mau lepas saja karena saat menahan sakit tanpa sengaja aku melotot dan mengejan...
suami mendampingiku, duduk di sampingku, entah apa yang ia pikirkan dan rasakan..
aku yakin ia sama lelahnya denganku...
sakit itu kembali datang, datang, dan datang tanpa kompromi
seperti ada pedang tajam yang dikibaskan mengenai perutku.
Ahh... aku tak tahan lagi, sungguh, serasa hampir pingsan, atau mungkin aku akan mati?
mataku mulai berkunang-kunang dan kabur pandangannya..
setiap itu terjadi, aku meminta suamiku mengambilkan minum untuk kuteguk..
aku benar-benar takut kesadaranku hilang lalu aku tak bisa bangun lagi!
"Anakku.. anakku... aku sungguh ingin merawatmu dulu!aku ingin menyusuinya...!ya Alloh beri aku kesempatan!" begitulah yang aku teriakkan dalam hatiku.
Tak tahan beberapa kali serasa mau pingsan, aku meminta suamiku memanggil perawat... bagaimanapun, seharusnya ada perawat yang memeriksa keadaanku pasca operasi! tapi kenapa tidak ada?!
ya Alloh... beri kekuatan....

Tak lama berselang (meski bagiku begitu amat lama), perawat datang...
"ada apa, bu?" tanyanya.
Ah, mengapa enteng sekali ia bertanya, apa tidak semua pasien sesar mengalami yang kualami?
"saya merasa perut saya sakit sekali, bu. Sampai hampir pingsan rasanya". begitu jawabku.
Tanpa ba-bi-bu ia mendekat padaku dan menekan perutku dengan jarinya "nyot, nyot"
"Aaaaaarrrrrgggghhh!!!!!" seketika itu juga aku menjerit sekuatnya dibarengi air mata yang tetiba saja banjir keluar dari pelupuk mataku!
Ya Allah, sakit... sakit... sakit.... Aku menangis sejadinya padahal ketika menangis luka jahitanku terasa tertarik keras sehingga tangisku pun tersengal-sengal.
"Bu! saya bilang, perut saya sakit sampai saya mau pingsan!! mengapa malah ditekan? Ya Alloh... kejam sekali Ibu!" begitu teriakku.
Perawat itu sedikit kaget saat aku berteriak dan menangis, ia sedikit ketakutan juga mungkin..
Lalu ia berkata, " Iya bu, saya hanya memeriksa saj bagian mana yang sakit.."
Saya pun menimpali, "tentu saja bagian yang dioperasi yang sakit, sakit kenapa dipencet!"
Sungguh speechless saat itu, apalagi setelah mendengar apa yang perawat itu katakan setelahnya,
"Ah... obat penghilang nyerinya lupa belum disuntikkan ya bu.. sebentar ya".
Asaghfirullah... tega-teganya bu perawat mengatakan itu.... "lupa" seperti hal biasa dan ia sama sekali tidak minta maaf???!!

Setelah suntikan anti nyeri diberikan, aku perlahan bisa tertidur. Waktu aku terbangun, hari sudah gelap, bajuku basah kuyup oleh keringat, tetapi aku merasa agak kedinginan. Perutku pun terasa kembung. Seharian dalam posisi tiduran membuat tubuhku kaku dan pegal. Petang itu aku di 'seka' (basuh dengan air) oleh bidan yang berjaga. Bidan itu sungguh ramah dan baik, ia menyeka tubuhku dengan sangat hati-hati. Melepas pakaian adalah hal yang sulit untuk pasien operasi sesar, apalagi baru saja operasi. Untuk melepas pakaian aku harus bisa sedikit miring kanan dan kiri, lalu mengangkat pantat dalam keadaan tidur telentang. Itu pun pelan-pelan sekali, karena luka jahitan panjang di perut itulah yang membuat sulit bergerak. Ditambah lagi keseleo pinggang kiriku belum sembuh, ah..betapa sulitnya memiringkan badan ke kiri. Alhamdulillah, bu bidan itu betul-betul sabar menungguku beringsut sana-sini dengan sangat pelan. "Seka" pertamaku hari itu berjalan lancar dan aku pun merasa sedikit segar.

Malam itu aku tidur lagi, tiduur terus rasanya. Padahal belum makan, tetapi aku tidak merasa lapar. Pikiranku terbang pada bayiku yang di ruang sana. Katanya, ia tidur sendirian di ruang itu, bayi lain tidak tidur di sana karena ada yang kuning, sakit, dll sedangkan bayiku satu-satunya bayi yang sehat di RS WK ini. Alhamdulillah ia sehat, meski aku terpaksa mengizinkan bidan memberinya susu formula karena keadaanku yang tak memungkinkan baik untuk menyusui ataupun memerah ASI. Ya Alloh, ampuni hamba... maafkan ibumu ini, nak. Ingin sekali meminta rawat gabung, tapi aku beringsut saja kesulitan, bagaimana aku bisa mengurus bayiku kalau ia menangis?bidan dan perawat tidak mengizinkannya sampai kondisiku stabil atau paling tidak aku sudah bisa duduk. Perawat memintaku untuk belajar miring kanan dan kiri terlebih dahulu, hari besok aku harus sudah bisa belajar duduk sendiri. Sungguh PR yang berat.

Keadaanku malam itu tidak terlalu bagus, perawat pun mengambil sampel darahku untuk diuji hb nya. Aku tak bisa melihat bagaimana wajahku tapi orang-orang bilang wajahku pucat. Waktu itu tubuhku memang panas dari perut ke atas, tapi dari perut ke bawah (bagian yang dianestesi) dingin bagai es. Malam itu Ibu dan suamiku terus memijat kakiku untuk menghangatkan bagian bawah tubuhku. Aku pun terlelap...




Wednesday, April 1, 2015

Tentang Kelahiran Buah Hatiku 2

April 01, 2015 0 Comments
Malam itu berlalu dengan syahdu... ahh apalah ini...
kontraksi demi kontraksi dilalui, dan aku mulai merasakan adanya tekanan di jalan lahir
rasanya seperti ada yang "ambrol" lalu ada sedikit sensasi seperti sayatan di sana..
perut terasa menegang lalu mengendur, begitu terus, sampai pagi tiba...

Sekitar pukul 06.00 pagi dokter masuk kamarku untuk mengecek keadaanku
dan lagi-lagi.. "slup" tangannya dimasukkan ke "sana" untuk memeriksa pembukaan
huff... deg-degan rasanya...
dokter lalu mengatakan, "Ini sudah saya periksa, sampai sekarang belum ada pembukaan ya Ibu, ini bahkan mulut rahimnya saja masih kaku. Seharusnya paling tidak mulut rahim itu lemes dulu sebelum pembukaan, nah ini masih kaku".
Apa? benarkah? padahal kontraksi, padahal ada rasa-rasa seperti "ambrol" dll tapi belum bukaan?
rasanya waktu itu tidak percaya.... dan akupun mulai khawatir...
Dokter melanjutkan, "Untuk kasus ini saya menawarkan 2 opsi, pertama induksi, yang kedua sesar. Kalau di induksi, resikonya begini, ada kemungkinan setelah diinduksi terjadi pembukaan lalu bayi bisa lahir secara normal, ada kemungkinan juga tetap tidak terjadi pembukaan, dan tetap harus sesar. Kemungkinan berhasilnya sekitar 20%, karena ketuban sudah pecah, padahal reaksi induksi biasanya baru dirasakan setelah 12 jam. Dalam 12 jam ini bisa saja ketuban habis, bisa saja ada resiko lain. Yang kedua saya sarankan sesar, kalau sesar berarti harus pindah rumah sakit, karena saya tidak ada tim di sini, jadi harus ke RS WK. Silakan dipikirkan dulu, nanti jam 7 saya ke sini lagi".

SubhanAlloh... aku benar-benar speechless... aku tak mempersiapkan diriku untuk menghadapi situasi ini.

Setelah bapak, ibu dan suami berunding, akhirnya mereka mengambil opsi sesar, agar resikonya lebih kecil. Toh jika induksi gagal, aku harus tetap sesar, malah nanti jadi dobel sakitnya. Apalagi sudah hampir 24 jam aku belum tidur dan kelelahan.
suami pun diminta untuk menanyakan perihal operasi ke RS WK, jarak dari klinik W ke RS WK sekitar 5-7 menit. Sementara itu, aku diminta pindah ke ruang periksa untuk menunggu ambulans.
Saat di ruang periksa, kontraksiku justru semakin cepat, air ketubanku banyak keluar, aku hitung jarak antar kontraksi sudah sekitar 5 menit sekali, tapi memang sakitnya belum begitu hebat kalau menurutku. Meski bagaimanapun aku juga tidak tahu sehebat apa sakit mau melahirkan itu, karena baru pertama kali! ahh... kenapa...

Tak lama, sekitar pukul 07.00 ambulans datang, aku pun dibawa menuju RS WK untuk menjalani operasi, sebelumnya lagi-lagi aku disuntik antibiotik, ahhh njuss nya sungguh menyakitkan dan pegal... ya Alloh, si penakut jarum ini harus lebih berani lagi.....
di dalam perjalanan menuju RS WK, aku merasakan sakit perut yang lebih dari sebelumnya, dan juga sakit perih seperti sayatan di jalan lahirku.. aahh betapa aku berharap ini pembukaan, mengapa kontraksi tapi tidak ada pembukaan?

Sesampai di RS WK, aku langsung dibawa ke ruang khusus, di sana bajuku diganti baju operasi, tanganku.. ahh tanganku.. berhadapan lagi dengan jarum, yang kali ini lebih besar, jarum infus.
Jarum infus, yang sedari kecil aku hindari meski aku sakit parah, karena begitu takutnya! Kini juss juss terpasang apik di pergelangan tanganku... ambil darah... juss.. ahh.. ya Alloh,, inikah kenikmatan menjadi Ibu? ya.. betul... tidak berakhir di situ...
satu alat lagi: kateter... ya.. alat bantu pipis ini, selang yang harus dimasukkan ke saluran kencingku adalah teror yang lebih mengerikan lagi bagiku... ya Alloh, kuatkan! aku berani.. aku...
"aaahhhhh!!!" teriak juga akhirnya... ditertawakan perawat...
"tarik nafas, buu.. yang panjang,,, mau jadi Ibu kan??? harus berjuang.. ini perjuangan jadi Ibu, ga boleh takut".
hiks.. ingin menangis rasanya mendengar kata-kata bu perawat, iya,, aku mau jadi Ibu, harus kuat...
Jarum-jarum.. tusuk-tusuk,, aku harus berdamai denganmu :')

Digeledek juga ke ruang operasi, artiya pisau, jarum, benang, jahitan, sobek-sobek ahhh.. jangan dibayangkan. Jangan!

Ruang operasi begitu dingin, dan pakaianku cuma sehelai. Dokter-dokter dan perawat sudah siap, mereka sedang tertawa, bercanda, menyanyi... mungkin ingin mencairkan suasana, agar aku tidak tegang.. ya.. tapi bagiku, itu seperti nyanyian ejekan, tawa intoleran, dan candaan yang terlalu dibuat-buat...
Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan. Oke, bismillah, mari lakukan!
dan.. aku harus berdamai lagi dengan suntikan, jarum yang lebih besar lagi... suntikan anestesi di tulang belakang, seingatku, aku ditusuk 3 kali atau entahlah berapa kali aku sudah tak peduli..
pokoknya bismillah...

Tadinya sedikit horor juga membayangkan dibedah tetapi mata masih bisa melihat, tubuh yang dibius hanya perut ke bawah... SubhanAlloh.. ini seperti pembunuhan yang kejam di depan mata!
Baru beberapa menit berjalan, aku mulai muntah-muntah, maklum saja karena tidak puasa dulu, ah..ada rasa malu bercampur tidak nyaman. Perut serasa diubek-ubek (memang sedang diubek-ubek) dan pandanganku sedikit kabur.
Tak lama terdengar suara bayi menangis... Alhamdulillah,. bayiku sudah lahir!
perawat pun langsung menunjukkan bayi itu padaku...
Ya Alloh.. ya Alloh... aku pun mulai menangis sesenggukan, air mata rasanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Gara-gara menangis, aku dimarahi dokter, "Jangan menangis, bu!jangan menangis!"
ya Alloh, menangis saja tidak boleh T___T padahal ga niat nangis juga.. dan aku terus menangis....

Selesai operasi, aku dibawa ke ruang dengan suhu normal.
Tetapi, meski sudah berada di tempat yang hangat, tubuhku terus menggigil kedinginan.
saking kedinginannya sampai gigiku bergemeletuk, tanganku gemetaran, sementara kakiku masih tidak bisa digerakkan.
Karena khawatir, Ibu lalu masuk ruangan itu dan menungguiku sambil menggenggam tanganku agar aku tidak gemetaran.




Tentang Kelahiran Buah Hatiku 1

April 01, 2015 0 Comments
Rasanya perlu waktu lama mempertimbangkan apakah tulisan ini layak untuk kubagi dengan orang lain atau tidak.
Ini kisah perjuangan melahirkan seorang bayi, ya.. kisah yang bagiku terasa panjang.
Sebelum melahirkan, aku sibuk mempersiapkan diriku dengan banyak ilmu.
Ilmu menghadapi kontraksi, menghadapi rasa sakit akan melahirkan, posisi yang baik agar pirenium tak perlu digunting (meski sedikit mustahil), ilmu mengejan dan lain-lain...
sayangnya, aku lupa.. aku hanya mempelajari ilmu melahirkan secara normal
aku mengesampingkan kemungkinan jika aku harus dioperasi atau menghadapi operasi sectio caesaria (SC) atau operasi sesar...
dan meski sempat terlintas, aku benar-benar menggampangkannya..
Saat periksa kehamilan, semua normal-normaal saja, bayi sehat, kepala bayi sudah pada posisi baik, bahkan saat 37 minggu kepala bayi sudah masuk jalan lahir dengan apik..
membaca buku tentang Gentle Birth secara tak sengaja mengerucutkan pandanganku untuk melahirkan dibantu bidan saja, karena bidan kunilai lebih sabar, sehingga aku tak mencari alternatif Rumah Sakit yang dokternya bagus (kalau-kalau aku harus di sesar)

Hari itu hari selasa, tanggal 17 Februari 2015, aku tidur siang seperti biasa..
tidur siang yang sudah susah dinikmati karena beratnya beban tubuh saat hamil tua
saat itu usia kandunganku 38 minggu.
entah sebab apa, mungkin terlalu banyak bangun untuk pipis di malam hari sehingga aku harus sering dari posisi tidur ke berdiri beberapa kali, pinggang kiriku keseleo.
pinggang keseleo ini sudah dirasakan dari kehamilan 37 minggu
menyebabkan area dari pinggang, pinggul, pantat, sampai kaki kiriku sulit digerakkan karena sakit dan kaku..
bangun dari posisi tiduran begitu sulit dan menyakitkan, jalan pun jadinya terpincang-pincang, duh... betapa tersiksa jika harus sering bangun di malam hari.
Malam itu pun sama, jam 20.00 perutku terasa mules pengen BAB..
beberapa kali harus ke belakang, tapi tidak keluar juga yang ingin dibuang itu..
akhirnya aku putuskan untuk tidur dalam keadaan duduk agar tak sering bangun dari posisi tidur, karena sakit di pinggangku jadi teramat tidak nyaman dirasakan.
mulesnya masih aja tidak santai, akhirnya tidak bisa tidur...
sekitar pukul 23.30, mulesnya datang lagi, tapi saat itu akhirnya yang mau dibuang keluar juga
alhamdulillah sedikit lega...
kembali dari kamar mandi, perut malah jadi sedikit kram kaya mau haid
setelah aku cek, ternyata memang ada sedikit bercak darah di celana, bercampur lendir..
aduh..jangan-jangan aku mau melahirkan?

Saat itu mau membangunkan suami, tapi tiba-tiba "jroooossshhh"
malah keluar cairan sangat banyak tak tertahankan dari jalan lahir..
ya Alloh... jangaan-jangan ini ketuban??
karena sedikit panik, aku bukan membangunkan suami tapi Bapak-Ibu (saat itu memang pulang untuk melahirkan di rumah bapak ibu)
betul lah, ternyata itu ketuban yang pecah dan mengucur...
mendengar ribut-ribut suami pun ikut bangun..
pada saat itu waktu menunjukkan pukul 00:00 tepat.

segera setelah itu, kami berempat, Bapak, Ibu, suami dan aku berangkat ke RS bersalin WR.
RS ini berjarak 25 menit dari rumah.
sesampainya di RS, aku segera diperiksa oleh bidan yang berjaga malam itu.
Bidan pun mengetes cairan yang keluar apakah betul cairan ketuban atau bukan, lalu memasukkan jarinya untuk mengecek apakah sudah ada pembukaan atau belum.
Dari hasil pengecekan, betul bahwa cairan yang keluar itu ketuban
Semestinya, jika ketuban pecah, maka akan diikuti oleh pembukaan yang cepat
bahkan katanya, bayi bisa lahir dalam waktu kurang dari 3 jam.
wow.. Masha Allah...
Tetapi sayangnya, itu tidak terjadi padaku, karena dari hasil pengecekan, mulut rahimku masih menutup
belum ada pembukaan sedikit pun!

Bidan pun menjelaskan situasiku pada Bapak, Ibu dan suami.
Dalam kasus ini, mereka tidak berani ambil resiko, karena belum ada pembukaan, sedang cairan ketubanku terus keluar, dan waktu itu belum adaa kontraksi.
Bidan pun menyarankan untuk ke RS lain saja yang ada dokternya.
sebenarnya di RS itu juga ada dokter jaga, tapi saat itu beliau tidak bisa dihubungi.
Ya sudahlah, kami harus berpindah ke RS lain.
Pikiranku saat itu mulai agak kacau dan aku terus berpikir kenapa aku perlu dokter?
apakah aku tidak bisa melahirkan secara normal jika begini?

Kami pun segera menuju ke Klinik W, bukan apa-apa, hanya klinik ini yang terpikir saat itu.
Klinik ini milik seorang obgyn, daan beliau tinggal di gedung yang sama dengan kliniknya.
Yah jaadilah kami ke sana. Bismillah...
saat itu aku sudah sedikit merasakan adanya kontraksi meski lemah
dan bagaimanapun aku juga tidak tahu rasanya kontraksi itu yang seperti apa.

Tak lama, aku dibawa ke sebuah ruang periksa, dan seperti biasa, dokter dan perawat mengecek cairan yang keluar dari jalan lahirku dan memasukkan jarinya untuk memeriksa adanya pembukaan.
Rasanya sungguh tidak nyaman ketika ada jari yang dimasukkan ke "situ".. ahh.. begini ternyata.
lagi-lagi aku harus mendengar hasil yang sama: "belum ada pembukaan."

'belum ada pembukaan' ini bukan kasus enteng, karena apa?ketubanku sudah pecah.
Itu masalahnya!
Normalnya, jika ingin bayi lahir sehat selamat, tergantung kondisi Ibu juga, jika ketuban sudah pecah, maka bayi selambat-lambatnya harus dilahirkan dalam waktu 8 jam.
Dalam waktu 8 jam itu, air ketuban bisa saja habis atau menjadi keruh dan membahayakan janin di dalamnya.
ya Allah.... bantulah hamba.....
waktu itu dokter mengatakan, "kita tunggu sampai besok pagi jam 6 ya, nanti tiap jam saya cek kontraksinya,detak jantung bayinya, pokoknya kita usahakan normal dulu".
huff... kata-kata dokter itu cukup melegakan...
lalu aku pun disuntik antibiotik malam itu sebelum aku dipindahkan ke kamar pasien
suntikan yang rasanya sungguh "Wow" untuk seorang penakut jarum suntik sepertiku haha....

malam itu kulalui dengan doa yang banyak agar kontraksi lancar dan pembukaan terjadi
sayangnya, cara-cara mempercepat pembukaan dan merangsang kontraksi yang ada di buku Gentle Birth tidak bisa dilakukan karena ketubanku sudah pecah...
aku coba goyang inul, ehh air ketuban makin ngucur..
jalan-jalan apalagi, forbidden... paling banter cuma bisa stimulasi puting.
Alhamdulillah kontraksi mulai datang...dan tiap jam memang jarak antar kontraksi makin dekat.
setengah jam sekali, seperempat jam sekali... tapi tidak terlalu menguat...
setiap kontraksi datang, air ketuban ikut keluar..serrr....
tapi tetap berfikir positif, semoga besok pagi pembukaan itu telah terjadi...


Sunday, March 16, 2014

Galaunya Menanti Momongan

March 16, 2014 0 Comments

Setiap pasangan yang baru menikah pasti sangat berharap segera memiliki momongan
tak terkecuali keluarga baru kami
Menikah dan memulai hidup mandiri di sebuah rumah kontrakan sederhana
Bertetangga dengan orang-orang yang baik hati di sekitar kami
itu adalah hal yang sangat membahagiakan
banyak hal-hal yang dulu terbayang ingin dilakukan saat sudah menikah tertunaikan sudah..
pacaran yang romantis setelah menikah, memasak sendiri untuk suami dan mengikuti PKK RT layaknya Ibu-Ibu, belanja sayur sayuran di pasar..
semuanya menyenangkan..
apalagi tetangga depan rumah dan samping rumah punya bayi-bayi kecil yang baru bisa berjalan..
duuh lucunya.. hari-hari kami tak habis dari kebahagiaan melihat dan membercandai mereka..
bulan-bulan pertama berlalu saat kami sangat menikmati kehidupan berdua kami
di saat-saat tertentu muncul keinginan menimang bayi milik kami sendiri
tapi sampai saat itu belum ada tanda-tanda kami akan punya bayi :)
jika dibilang sedih ya kadang sedih juga,,,
kok belum hamil juga ya?
sebenarnya sepi sih tidak juga, karena bermain dengan anak tetangga juga menyenangkan
tapi ada saatnya mereka harus pulang ke rumahnya dan kami pun melamun lagi hehe
Ada masa-masa di mana aku pribadi agak parno ketemu orang-orang
yaitu kalau-kalau mereka meluncurkan pertanyaan, "udah 'isi' belum?"
dan saat-saat aku harus senyum atau 'nyengir' sambil menjawab "Belum,,, doakan ya..."
hehe karena sudah seringnya ditanya lama-lama bukannya terbiasa malah bikin tambah sedih (ah lebai ini)
kalau dipikir-pikir, 'enggak enak'-nya lebih parah dibanding ditanya "kapan nikah?" sewaktu masih jomblo
boleh buktikan,..... ehhh jangan ding.. semoga semua yg udah nikah segera punya momongan, aamiin :)
dulu pas baru masuk 2 bulan menikah aku mulai galau gegara sering banget itu ditanya "udah isi apa belom"..
sampai-sampai aku heran sendiri, kan baru nikah kok udah ditanya itu terus ya?
aku cuma bisa mensyukurinya karena tiap ada yang nanya, maka saat itu pula aku punya kesempatan minta didoakan, satu penanya, satu mendoakan.. semakin banyak yang nanya, semakin banyak yang doakan :D
siipp....
Ibu bilang sih, "dulu Ibu tiga bulan menikah baru hamil..."
Mungkin aku kaya Ibu kali ya? nanti di bulan ketiga aku hamil juga engga ya?
hehe.. bulan ketiganya lewat begitu aja dengan kehadiran si merah,,
ho ho ho aku beda sama Ibu berarti...
aku ra popo deh... harus belajar lebih sabar dari Ibu :)
Alloh tahu kapasitasku, yang masih anak-anak begini sifatnya mah mana bisa momong anak-anak juga :D
Pas suatu kali aku main ke rumah tetangga, aku ngobrol-ngobrol sama mba tetangga
Ia cerita dulu waktu menikah harus nunggu 4 bulan baru hamil...
oh,, ini beda lagi, 4 bulan,, berarti aku kalau 4 bulan nikah baru hamil, bulan depan aku hamilnya ya...
hehe sukanya beneran deh nyama-nyamain sama orang :D
Gara-gara kejadian kaya begitu aku jadi sering diceritain kisah orang-orang yang menunggu punya momongan
dan lagi-lagi yaa,,, aku nyama-nyamain kalau yang satu nya dah lewat ya mungkin aku sama kaya yang satunya lagi waktu nunggu nya :D
Tetangga sebelahnya lagi dulu nunggu 8 bulan baru hamil...
ada yang nunggu 6 bulan baru hamil..
ada yang 2 tahun (ya Alloh... lama yaa....)
ada yang 3 Tahun! Itu teman dari Instansi lain yang kebetulan ketemu di acara diklat...
ada yang lebih lama lagi, juga temen instansi lain yang kebetulan ketemu waktu diklat, dia sudah nikah 7,5
tahun dan belum dikaruniai momongan....!SubhanAlloh... saya waktu mendengar itu rasanya kaget campur ga percaya... dan si embak tampak biasa saja mengatakan itu seolah sudah biasa :( betapa sabar wanita ini, pikirku saat itu.
Banyak sekali yang kemudian memenuhi pikiranku, ternyata sungguh banyak pasangan yang merasakan kegalauan menanti momongan, dan meskipun sudah 7 tahun bahkan 10 tahun mereka tetap terus berharap dengan pengharapan pengantin baru. Tak kenal menyerah dan tak kenal putus asa, meski kadang perasaan itu hinggap namun tak jadi hal yang membuat mereka benar-benar berhenti berharap.. SubhanAlloh...
saya yang rasanya baru kemarin menikah sudah galau begini jadi malu, malu tak hanya pada mereka tapi juga pada Alloh... betapa saya tidak sabar, betapa saya tidak bersyukur...
Akhirnya hari-hari penuh kesabaran pun harus dijalani, meski tiap pagi ketika bangun dari tidur rasanya yang langsung terlintas di kepala adalah tentang menanti kehamilan...
Tidak mau galau tak berujung, akhirnya pun mulai browsing-browsing tentang cara cepat hamil sampai ikut grup ibu-ibu yang sama-sama menanti kehadiran buah hati. Dan ternyata sangat banyak yang senasib sepenanggungan! Waktu itu tak sengaja nemu akun ibuhamil.com dan ikutan nimbrung di sana, kadang membaca curhatan para "bunsay" itu sedikit mengobati rasa galau. Sungguh... meski nanti jika ada yang curhat kalau sudah mendapati garis dua di testpack akan membuat lebih galau, "giliranku kapan??"
Pas baca terjemah Qur'an lalu baca tentang kisah Nabi Ibrahim dan Zakariya, rasanya malu. Lihatlah, orang-orang saleh seperti Nabi pun diuji dengan tak kunjung memiliki momongan! padahal Nabi Zakariya dan Nabi Ibrahim adalah orang-orang terkasih Allah... maka do'a Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya pun harus jadi bacaan wajib tiap solat.. semoga Allah juga mengabulkan doaku =)
Menanti momongan juga membuat aku dan suami memulai hidup sehat. Bagaimanapun, setiap ujian Allah selalu ada hikmahnya. Kami dulu suka sedikit-sedikit bikin mi instan, makan jajan sembarangan, jarang konsumsi buah, atau olahraga. Tetapi demi berhasil mendapat momongan, pola makan harus dibenahi. Mulai dari makan sehat, no msg, buah-buahan harus selalu ada setiap hari, minum susu dan madu, tidur tidak terlalu malam, juga suami jadi rajin jogging kalau pagi.
Usaha-usaha selain ini juga ada, yaitu mengikuti program hamil alami. Ada seorang teman menyarankan minum jus 3 diva (tomat, apel malang + wortel campur jadi satu),  minum folavit+vitamin E, madu penyubur, sampai mengatur jadwal berhubungan suami istri. Akhirnya ya sudah dicoba saja semua alternatif itu, dan sembari berdoa ga putus-putus. Ga sabar berdoa tiap solat ya pokoknya tiap ingat pengen hamil langsung saja berdoa.
Puncak galau menanti momongan akan datang pada saat menunggu tanggal jadwal keluar si merah. Kalau si merah muncul rasanya campur aduk, antara putus asa dan mendapat harapan baru. Putus asa karena bukan bulan ini aku hamil, harapan barunya karena minggu depan adalah masa subur dimulai lagi, kesempatan baru lagi! Menanti masa subur juga adalah hal yang menyenangkan, aku dan suami mulai mengatur jadwal berhubungan lagi, dibantu aplikasi pendeteksi masa subur dari handphone. Kadang lucu juga melakukan segala hal ini, seperti suatu kekonyolan, padahal jika Allah berkehendak, Allah hanya mengatakan "kun fayakun" maka aku akan hamil insyqAllah. Tapi aku akan tetap melakukan hal-hal konyol ini sebagai suatu usaha disamping doa... semoga Allah ridha dan mewujudkannya untuk kami 
Mengalami berbagai peristiwa dramatis menanti momongan membuatku menyadari bahwa ucapan yang kita dapat saat menikah dari teman-teman dan kerabat, yaitu "semoga segera diberi momongan" adalah ucapan yang sangat penting. Penting sekali. Seandainya para pasangan pengantin menyadari betapa pentingnya ini, pasti doa ini akan di "aamiin" i dengan penuh penghayatan. Bayangkan saat itu ada ratusan mungkin ribuan yang mendoakan hal tersebut untuk kita!Sejak saat itu, aku selalu berdoa untuk pasangan baru menikah agar mereka segera dikaruniai momongan.
Menanti momongan juga mengajarkan aku akan kebenaran bahwa sabar itu tanpa batas. Keaabaran manusia itu sebenarnya tidak ada batasnya! Bayangkan betapa tidak sabarnya kita ingin menimang bayi kita sendiri, tapi ketika Allah belum berkehendak, apakah kita lalu sabarnya habis? kita tetap bersabar. Kesabaran yang tidak ada batas, sampai kapan kita akan menanti kita tidak tahu. Apakah kita termasuk hamba Nya yang dikaruniai momongan atau tidak, kita tidak tahu. Yang kita tahu, kita berdoa, kita berusaha, kita pasrahkan hasilnya pada Allah, dan sabar dengan kesabaran yang tidak ada batasannya sampai Allah mengirimkan berita gembira itu, entah di dunia atau di surga.
"Ya Allah karuniakanlah kami anak yang soleh..."

Tuesday, March 11, 2014

Book Review: Jangan Menyerah Bunda

March 11, 2014 0 Comments







Menemukan buku menarik ini di Gramedia pagi tadi, dan subhanAllah bukunya keren sekali :) recommended buat mereka para pasangan suami istri yang lagi mendamba punya momongan :) meskipun pastinya yang bakal tertarik membaca buku ini pasti para istri hehe... buku ini ditulis oleh tiga orang ibu pejuang momongan.. mereka benar-benar pejuang karena banyak sekali perjuangan yang dilakukan dari yang paling ringan sampai paling menyakitkan, dari yang paling sedikit biayanya sampai yang paling mahal, dan dari keinginan yang menggebu hingga kepasrahan yang terendah.. untuk mendapatkan sang makhluk mungil bernama bayi. 
Mereka umumnya sudah menjalani pernikahan lebih dari 4 tahun, dan sudah menjalankan program hamil alami sampai ke dokter maupun alternatif yang kalau dibaca bener-bener WOW banget tahap-tahap yang harus mereka lalui.
Dari hanya minum obat sampai suntik sampai harus "diobok-obok" rahimnya melalui alat yang dimasukkan dari alat vitalnya.. masyaAllah!
tapi pada akhirnya, mereka tetap tidak menyerah meski harus mengalami kegagalan berkali-kali, dari yang akhirnya telah berhasil hamil namun keguguran bahkan sampai dua kali,,, dan terus dihantui rasa khawatir akan terjadi sesuatu pada calon bayinya dan pada kemungkinan kemungkinan tak bisa hamil yang disebabkan hormon, penyakit dan kelainan organ. Mereka tabah! mereka kuat! mereka adalah Ibu, wanita perkasa, jagoan!
sungguh, Allah tak buta akan perjuangan mereka, dan pada akhirnya Allah menjawab ikhtiar dan doa mereka dengan kehadiran sang buah hati. Sungguh indah sungguh indah.... <3
Perjuangan kalian menginspirasiku..
berharap ada edisi ke-2 nya <3 (

Monday, March 10, 2014

Agar Tak Lupa Bersyukur ^__^

March 10, 2014 0 Comments
                               Alhamdulillah
                                                  Alhamdulillah
                                                                    Alhamdulillah
                                                                                        Alhamdulillah
                   Alhamdulillah   Alhamdulillahv   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
     Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
  Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
  Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah  
Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah
 Alhamdulillah   Alhamdulillah   Alhamdulillah

Monday, February 24, 2014

Yang Terbaik :-)

February 24, 2014 0 Comments
Seperti banyak pantangan..
Seperti banyak yang diinginkan...
Rasanya antara takut akan mendahului kehendak Allah setiap saat
tapi begitu mendambakannya..
Rasanya seperti kurang sabaar sekali
padahal Allah telah tunjukkan bahwa ada yang mampu lebih sabar dan tawakkal dariku.
Seharusnya aku malu.
Seharusnya aku sadar betapa lemahnya aku
Lemah tanpa kuasa Mu ya Allah
Aku memohon dan memohon dengan keinginan kuat hingga sedih
Tetapi aku berusaha untuk berfikir positif dan terus tawakkal.
Bahagia adalah mensyukuri segala nikmat Allah yang telah diberikan padaku,
yang orang lain begitu menginginkan dan Allah menjawab doaku dengan sangat manis :')
Apakah kau lupa itu?
Maka Nikmat tak terhingga itu apakah telah kau lupakan?
Betapa tidak bersyukur...betapa tidak bersyukur..
Ampuni aku ya Allah atas ketidaksabaran ini.
Atas ketidakpercayaan pada ketetapanMu yang terbaik...

Sang Bayi

February 24, 2014 0 Comments
Memang patutnya berkaca
Pada apa yang terlihat di sekitarku
melihat sesosok anak yang kesepian dan terpenjara
Ia hanya bayi yang sedang senang-senangnya belajar berjalan
Ya, ia hanya bayi yang di otaknya sedang ingin-inginnya tahu segala hal
baginya segalanya menarik
saat ia melihat burung terbang di balik jendela rumahnya
saat ia melihat anak-anak sekolah berlarian di depan pagar rumahnya
mereka berkejaran membawa pistol dan bola atau pedang-pedangan
ia mengamati dengan penuh rasa heran
Ia juga mengamati bagaimana para remaja bermail futsal di lapangan depan rumahnya
dari balik pagar besi rumahnya
dari balik jendela rumahnya
ia ingin berlari ke sana
ke lapangan itu
ke jalanan itu
bayi itu hanya butuh sepatu yang muat di kakinya
dan gerbang yang terbuka lebar
lalu orang dewasa yang mendampinginya
Ia hanya ingin berjalan dengan bebas di jalanan luar rumahnya
tak perlu jauh, tak perlu jauh... hanya di depan rumah.
Itu kebahagiaan baginya.
Tapi tak ia dapatkan.
Seharian yang ada hanya berada di dalam rumah,
bermain dengan sang pengasuh yang sudah menua
yang jika lelah ia akan mulai mengeluarkan kata-kata kasar
kata-kata kasar yang ia tujukan pada si bayi malang tak berdosa itu
kadang bayi itu diancam akan dijewer jika tak mau menurut
saat berjalan lalu terjatuh ia akan di "kapok-i"
Ia hanya bayi....
hanya bayi yang jika aku pulang dari tempatku bekerja memanggil-manggil ingin ikut
menangis jika aku tak mengunjunginya
menangis saat sang pengasuh mencoba menariknya dari gendonganku
ia memeluk leherku tak mau lepas
saat aku bawa ke rumahku ia mulai berlari-lari
lari dari kamar satu ke kamar lain
mengambil barang-barang apa saja yang menarik baginya
lalu ia memainkannya sambil tersenyum senyum tanpa suara
kadang ia memakannya
saat kugoda ia akan tertawa sedikit
tapi jika lama ia akan mulai tertawa dengan renyahnya
Ia sering menatapku dengan pandangan heran
pandangan yang kosong tapi berarti
menurutku ia rindu, ia kesepian, ia seperti memohon...
bayi kecil.. bayi kecil... apa yang kau pikirkan?
kerap suamiku menggendongnya kesana kemari
menerbangkannya bagai pesawat terbang
menuruti kemana arah jarinya menunjuk
memangkunya saat ia bermain
dan meletakkannya di kakinya untuk diayun
ia pun tertawa tawa
tertawa tawa antara bingung dengan bahagia
ekspresi yang sangat diingat oleh aku dan suamiku
ekspresi seorang bayi yang merindukan sosok kedua orang tuanya

aku berkaca aku berkaca
mampukah aku kelak menjadi Ibu yang baik bagi anakku?

Friday, February 7, 2014

Tentang Pernikahan dan Jilbab Bagian 5

February 07, 2014 0 Comments
Setiba di rumah hari itu amat membuatku bingung dan kaget.
Karena hari itu Ibu masak-masak...
memancing Ikan Gurami di kolam belakang rumah,
menyiapkan hidangan dan Ibu juga mengajakku pergi untuk membeli snack
Lalu bapak memintaku mengikutinya ke kamar dan mendudukkanku
pelan ia mengatakan, " Nanti sore insyaAllah, "Ikhwan ini" akan datang ke rumah bersama ayah dan keluarganya"
Bapak meneruskan, "mungkin ada maksud dengan kamu (karena anak perempuan bapak hanya aku seorang)."
sampai di sini, aku mulai merasa ada yang berdesir di hatiku.
karena "Ikhwan" yang disebutkan oleh bapak tadi itu tak lain dan tak bukan adalah pria yang sempat dekat denganku dulu!
yang aku mengatakan padanya, mari kita putus dan saling mendekatkan diri pada Allah agar kita diberi jodoh terbaik menurut Nya.
Yang saat aku malah tenggelam dalam pemujaan idola namun ia belajar agama.
yang aku telah hampir 2 tahun berpisah dan tak terlalu ingat kapan terakhir bertemu dengannya!
Saat aku tersadar, bapak lalu bertanya, "Jika dia melamarmu nanti, apa akan kamu terima?"
Aku sungguh bingung harus menjawab apa, lalu aku hanya berucap, "InsyaAllah"
tanpa keraguan. tanpa penghalang pikiran antara iya atau tidak.
Allah... ya Allah? benarkah keputusanku?

Saat sore tiba, ia benar datang bersama orang tua dan sanak saudaranya.
aku saat itu ada di kamar, yang bahkan aku belum sempat mandi karena setiba aku di rumah saat itu,
aku langsung bantu ibu masak-masak dan belanja.
aku mendengar mereka mengobrol kesana kemari antara bapak dan keluarganya.
lalu terdengarlah ucapan dari wakil keluarganya bahwa mereka berniat melamar putri bapak.
rasanya saat itu aku kaget dan tak percaya hari itu nyata! mungkin aku hanya mimpi saja!
dan aku mendengar bapak menjawab, "jika menikahnya disegerakan, saya terima, jika tidak, saya tidak boleh". Ya, itu jawaban bapak, yang lalu disanggupi oleh pihak keluarga sang lelaki.
barulah saat itu aku keluar, malu, menundukkan kepala
waktu aku mengangkat muka, aku melihatnya, duduk tertunduk tak menatapku, ia pun sama malu!
aku makin malu!
keluarganya tertawa dan mengatakan, "ooohhh ini too calon yang tadi saya lamarkan!"
gubraakk... si keluarga baru tahu seperti apa "aku" saat itu juga, padahal udah main lamar aja! :-D

3 bulan setelahnya kami menikah, ya aku menikah!
aku yang baru kemariiin rasanya curhat bahwa aku masih single di umur yang mulai masuk angka angka mengkhawatirkan (ini berlebihan :D)
aku yang berpikir, siapa jodohku? bagaimana kami bertemu? bagaimana ia akan mengenalku untuk langsung berani datang pada bapakku karena aku tak mau pacaran?
dan banyak pertanyaan lain yang kadang tak habis habis dipikirkan!
lagi-lagi, Allah membuktikan bahwa Ia Maha Kuasa! saat Ia sudah menetapkan takdirNya, maka semua yang sepertinya mustahil akan jadi bisa!
Alhamdulillah ya Allah... aku baru mendekat selangkah, namun Engkau mendekapku dengan begitu erat... :')

Pernikahan yang indah karena mengenal Mu, sungguh kami sedang belajar bersama-sama untuk lebih dekat lagi pada Mu ya Allah...
bimbinglah kami..........
saat kami saling menyemangati dan saling mengingatkan dalam ibadah wajib maupun sunnah,
saat kami menikmati waktu-waktu subuh berdua sambil membaca Hadits bersama,
lalu memperbaiki keseharian kami dengan ilmu baru itu,,
waktu-waktu itu selalu jadi waktu-waktu yang amat aku rindukan,,, setiap hari...
saat aku melakukan kesalahan ada yang mengingatkanku dengan lembut
lalu meluruskanku dalam akidah, membantuku untuk lebih memahami peranku sebagai istri
memudahkanku mendapatkan ridhonya, karena ridhonya adalah surgaku.

ya Allah, jika aku kufur akan nikmat Mu ini, sungguh aku tak tahu maluu sekali..
Alhamdulillahh... Terima Kasih ya Allah atas karunia Mu ini...
Segala Puji bagi Allah... semoga Allah mengekalkan nikmat Nya ini pada kami, baik di dunia maupun akhirat nantinya..
limpahkanlah kasih sayang antara kami, jadikanlah kami suami istri yang saling mencintai di kala kami dekat,
dan saling menjaga di kala kami berjauhan, saling berbagi kebahagiaan, saling menguatkan di kala terjatuh dan saling menghibur di kala sedih...
berikanlah pada kami kelapangan hati untuk saling memaafkan, saling mengingatkan dan saling memahami.
Jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, yang cinta Qur'an, yang menghidupkan sunnah,
dan menjaga silaturahmi...
ya Allah cukupkanlah kebahagiaan kami dengan ridho Mu...

Aamiin.. Aamiin... Allohumma Aamiin :')


*sujud syukur*


Thursday, February 6, 2014

Tentang Pernikahan dan Jilbab Bagian 4

February 06, 2014 0 Comments
Sejak memutuskan untuk menjadi muslimah yang sebenarnya aku mulai mengoleksi banyak buku
Buku-buku Islam yang akan membantuku move on dan menambah ilmuku
kemudian aku jadi "book eater" dalam setahun terakhir... :-)
Alhamdulillah, mengenal Islam lewat buku membuatku memahami Islam dengan caraku
dan itu sangatlah indah.
Kemudian tak setelah aku kembali berhijab syar'i, aku mencari komunitas untuk mengaji
bagaimanapun istikomah itu perlu diusahakan, kalau hanya sendirian maka akan susah untukku mendapat peringatan dari teman lain saat sedang futur
Alhamdulillah mengenal Solidaritas Peduli Jilbab pada saat itu
lalu mencoba untuk ikut gabung dan menjadi bagian dari komunitas mereka
dan alhamdulillah diserahi amanah sebagai tim Jilbab Care
aku bertugas selain mendakwahkan jilbab syar'i juga menjadi tim yang bertugas mencari teman-teman yang sangat ingin berjilbab syar'i tapi tak mampu membeli khimar, atau membantu kawan-kawan mendapatkan pakaian syar'i saat ada bencana, pokoknya tentang kegiatan charity untuk pakaian syar'i :)
sayangnya memang karena aku terlalu sibuk dengan kerja dan karena tempat pusatnya jauh di depok sana
(aku di solo), maka aku jarang aktif terjun ke lapangan
sesuai visi misi ku waktu mendaftar Jilbab Care, aku ingin tiap bulan Jilbab Care ada donasi masuk untuk menyumbang jilbab dan pakaian syar'i untuk yang memerlukan, aku hanya aktif lewat donasi ini saja
yang alhamdulillah bisa aku kirimkan ke pusat tiap bulannya, meski tak terlalu banyak, tapi rutin.
Lewat mereka aku mengenal banyak hal dan ilmu yang bermanfaat
dan karena mereka aku lebih mudah menjaga keistikomahan :)

dan saat itu juga aku mulai mengkondisikan orang tuaku pada 'hidup baru' ku ini..
orang tua ku harus mengetahui bahwa anak perempuannya sedang proses menjadi muslimah yang benar
dan ibu pun akhirnya dapat mengerti, begitu juga bapak yang malah kelihatan lega :)
dan perlahan aku mengatakan pada bapak ibu bahwa aku tak lagi mau pacaran
usiaku saat itu memang sudah usia nikah, yaitu 25 menuju 26 :-)
mungkin ibu cemas juga karena aku belum punya pacar
tapi aku jelaskan bahwa aku ga akan berpacaran, jika Ibu bapak ada calon untukku
aku mau dijodohkan saja, syaratnya hanya satu, pria sholeh :-D
tidak tahu malunya aku, padahal belum juga jadi wanita sholehah....

waktu berjalan, beberapa kali aku dikenalkan dengan seorang laki-laki pilihan Ibu
tapi entah kenapa Ibu sendiri yang merasa tak cocok dengan beliau
yang pasti, aku menyerahkan pada Bapak Ibu saja untuk kebaikan bersama
Saat itu, aku merasa, mungkin orang tuaku sudah menginginkan aku menikah
karena itu aku lalu mulai membeli banyak buku tentang menikah menurut Islam
buku-buku itu di antaranya karya Ustadz Salim A Fillah dan beberapa buku lain
ada pula buku tentang psikologi wanita dan pria, bagaimana menjaga hubungan yang baik antar suami istri
rasanya malu sekali baca buku-buku semacam itu :') tapi semakin mendambakannya.

Aku selalu berdoa kepada Allah agar Allah mempertemukan aku dengan jodoh terbaik atas kehendakNya.
Semoga Allah mempertemukan dengan ia yang mencintai Nya.
Semoga Allah mempertemukan aku dengan jalan yang baik dan menikah secara syar'i.
Doa dan terus berdoa seusai salat.

Suatu ketika aku di telpon Ibu, ditanyakan apakah minggu ini aku akan pulang.
Aku memang berencana untuk pulang, dan saat aku menanyakan ada apa, Ibu hanya menjawab tak ada apa-apa, hanya ingin tahu saja.
Saat aku tiba di rumah...




bersambung...