About Me

My photo
I'm just ordinary woman who really loves reading and writing :)

Monday, February 24, 2014

Sang Bayi

February 24, 2014 0 Comments
Memang patutnya berkaca
Pada apa yang terlihat di sekitarku
melihat sesosok anak yang kesepian dan terpenjara
Ia hanya bayi yang sedang senang-senangnya belajar berjalan
Ya, ia hanya bayi yang di otaknya sedang ingin-inginnya tahu segala hal
baginya segalanya menarik
saat ia melihat burung terbang di balik jendela rumahnya
saat ia melihat anak-anak sekolah berlarian di depan pagar rumahnya
mereka berkejaran membawa pistol dan bola atau pedang-pedangan
ia mengamati dengan penuh rasa heran
Ia juga mengamati bagaimana para remaja bermail futsal di lapangan depan rumahnya
dari balik pagar besi rumahnya
dari balik jendela rumahnya
ia ingin berlari ke sana
ke lapangan itu
ke jalanan itu
bayi itu hanya butuh sepatu yang muat di kakinya
dan gerbang yang terbuka lebar
lalu orang dewasa yang mendampinginya
Ia hanya ingin berjalan dengan bebas di jalanan luar rumahnya
tak perlu jauh, tak perlu jauh... hanya di depan rumah.
Itu kebahagiaan baginya.
Tapi tak ia dapatkan.
Seharian yang ada hanya berada di dalam rumah,
bermain dengan sang pengasuh yang sudah menua
yang jika lelah ia akan mulai mengeluarkan kata-kata kasar
kata-kata kasar yang ia tujukan pada si bayi malang tak berdosa itu
kadang bayi itu diancam akan dijewer jika tak mau menurut
saat berjalan lalu terjatuh ia akan di "kapok-i"
Ia hanya bayi....
hanya bayi yang jika aku pulang dari tempatku bekerja memanggil-manggil ingin ikut
menangis jika aku tak mengunjunginya
menangis saat sang pengasuh mencoba menariknya dari gendonganku
ia memeluk leherku tak mau lepas
saat aku bawa ke rumahku ia mulai berlari-lari
lari dari kamar satu ke kamar lain
mengambil barang-barang apa saja yang menarik baginya
lalu ia memainkannya sambil tersenyum senyum tanpa suara
kadang ia memakannya
saat kugoda ia akan tertawa sedikit
tapi jika lama ia akan mulai tertawa dengan renyahnya
Ia sering menatapku dengan pandangan heran
pandangan yang kosong tapi berarti
menurutku ia rindu, ia kesepian, ia seperti memohon...
bayi kecil.. bayi kecil... apa yang kau pikirkan?
kerap suamiku menggendongnya kesana kemari
menerbangkannya bagai pesawat terbang
menuruti kemana arah jarinya menunjuk
memangkunya saat ia bermain
dan meletakkannya di kakinya untuk diayun
ia pun tertawa tawa
tertawa tawa antara bingung dengan bahagia
ekspresi yang sangat diingat oleh aku dan suamiku
ekspresi seorang bayi yang merindukan sosok kedua orang tuanya

aku berkaca aku berkaca
mampukah aku kelak menjadi Ibu yang baik bagi anakku?

Friday, February 7, 2014

Tentang Pernikahan dan Jilbab Bagian 5

February 07, 2014 0 Comments
Setiba di rumah hari itu amat membuatku bingung dan kaget.
Karena hari itu Ibu masak-masak...
memancing Ikan Gurami di kolam belakang rumah,
menyiapkan hidangan dan Ibu juga mengajakku pergi untuk membeli snack
Lalu bapak memintaku mengikutinya ke kamar dan mendudukkanku
pelan ia mengatakan, " Nanti sore insyaAllah, "Ikhwan ini" akan datang ke rumah bersama ayah dan keluarganya"
Bapak meneruskan, "mungkin ada maksud dengan kamu (karena anak perempuan bapak hanya aku seorang)."
sampai di sini, aku mulai merasa ada yang berdesir di hatiku.
karena "Ikhwan" yang disebutkan oleh bapak tadi itu tak lain dan tak bukan adalah pria yang sempat dekat denganku dulu!
yang aku mengatakan padanya, mari kita putus dan saling mendekatkan diri pada Allah agar kita diberi jodoh terbaik menurut Nya.
Yang saat aku malah tenggelam dalam pemujaan idola namun ia belajar agama.
yang aku telah hampir 2 tahun berpisah dan tak terlalu ingat kapan terakhir bertemu dengannya!
Saat aku tersadar, bapak lalu bertanya, "Jika dia melamarmu nanti, apa akan kamu terima?"
Aku sungguh bingung harus menjawab apa, lalu aku hanya berucap, "InsyaAllah"
tanpa keraguan. tanpa penghalang pikiran antara iya atau tidak.
Allah... ya Allah? benarkah keputusanku?

Saat sore tiba, ia benar datang bersama orang tua dan sanak saudaranya.
aku saat itu ada di kamar, yang bahkan aku belum sempat mandi karena setiba aku di rumah saat itu,
aku langsung bantu ibu masak-masak dan belanja.
aku mendengar mereka mengobrol kesana kemari antara bapak dan keluarganya.
lalu terdengarlah ucapan dari wakil keluarganya bahwa mereka berniat melamar putri bapak.
rasanya saat itu aku kaget dan tak percaya hari itu nyata! mungkin aku hanya mimpi saja!
dan aku mendengar bapak menjawab, "jika menikahnya disegerakan, saya terima, jika tidak, saya tidak boleh". Ya, itu jawaban bapak, yang lalu disanggupi oleh pihak keluarga sang lelaki.
barulah saat itu aku keluar, malu, menundukkan kepala
waktu aku mengangkat muka, aku melihatnya, duduk tertunduk tak menatapku, ia pun sama malu!
aku makin malu!
keluarganya tertawa dan mengatakan, "ooohhh ini too calon yang tadi saya lamarkan!"
gubraakk... si keluarga baru tahu seperti apa "aku" saat itu juga, padahal udah main lamar aja! :-D

3 bulan setelahnya kami menikah, ya aku menikah!
aku yang baru kemariiin rasanya curhat bahwa aku masih single di umur yang mulai masuk angka angka mengkhawatirkan (ini berlebihan :D)
aku yang berpikir, siapa jodohku? bagaimana kami bertemu? bagaimana ia akan mengenalku untuk langsung berani datang pada bapakku karena aku tak mau pacaran?
dan banyak pertanyaan lain yang kadang tak habis habis dipikirkan!
lagi-lagi, Allah membuktikan bahwa Ia Maha Kuasa! saat Ia sudah menetapkan takdirNya, maka semua yang sepertinya mustahil akan jadi bisa!
Alhamdulillah ya Allah... aku baru mendekat selangkah, namun Engkau mendekapku dengan begitu erat... :')

Pernikahan yang indah karena mengenal Mu, sungguh kami sedang belajar bersama-sama untuk lebih dekat lagi pada Mu ya Allah...
bimbinglah kami..........
saat kami saling menyemangati dan saling mengingatkan dalam ibadah wajib maupun sunnah,
saat kami menikmati waktu-waktu subuh berdua sambil membaca Hadits bersama,
lalu memperbaiki keseharian kami dengan ilmu baru itu,,
waktu-waktu itu selalu jadi waktu-waktu yang amat aku rindukan,,, setiap hari...
saat aku melakukan kesalahan ada yang mengingatkanku dengan lembut
lalu meluruskanku dalam akidah, membantuku untuk lebih memahami peranku sebagai istri
memudahkanku mendapatkan ridhonya, karena ridhonya adalah surgaku.

ya Allah, jika aku kufur akan nikmat Mu ini, sungguh aku tak tahu maluu sekali..
Alhamdulillahh... Terima Kasih ya Allah atas karunia Mu ini...
Segala Puji bagi Allah... semoga Allah mengekalkan nikmat Nya ini pada kami, baik di dunia maupun akhirat nantinya..
limpahkanlah kasih sayang antara kami, jadikanlah kami suami istri yang saling mencintai di kala kami dekat,
dan saling menjaga di kala kami berjauhan, saling berbagi kebahagiaan, saling menguatkan di kala terjatuh dan saling menghibur di kala sedih...
berikanlah pada kami kelapangan hati untuk saling memaafkan, saling mengingatkan dan saling memahami.
Jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, yang cinta Qur'an, yang menghidupkan sunnah,
dan menjaga silaturahmi...
ya Allah cukupkanlah kebahagiaan kami dengan ridho Mu...

Aamiin.. Aamiin... Allohumma Aamiin :')


*sujud syukur*


Thursday, February 6, 2014

Tentang Pernikahan dan Jilbab Bagian 4

February 06, 2014 0 Comments
Sejak memutuskan untuk menjadi muslimah yang sebenarnya aku mulai mengoleksi banyak buku
Buku-buku Islam yang akan membantuku move on dan menambah ilmuku
kemudian aku jadi "book eater" dalam setahun terakhir... :-)
Alhamdulillah, mengenal Islam lewat buku membuatku memahami Islam dengan caraku
dan itu sangatlah indah.
Kemudian tak setelah aku kembali berhijab syar'i, aku mencari komunitas untuk mengaji
bagaimanapun istikomah itu perlu diusahakan, kalau hanya sendirian maka akan susah untukku mendapat peringatan dari teman lain saat sedang futur
Alhamdulillah mengenal Solidaritas Peduli Jilbab pada saat itu
lalu mencoba untuk ikut gabung dan menjadi bagian dari komunitas mereka
dan alhamdulillah diserahi amanah sebagai tim Jilbab Care
aku bertugas selain mendakwahkan jilbab syar'i juga menjadi tim yang bertugas mencari teman-teman yang sangat ingin berjilbab syar'i tapi tak mampu membeli khimar, atau membantu kawan-kawan mendapatkan pakaian syar'i saat ada bencana, pokoknya tentang kegiatan charity untuk pakaian syar'i :)
sayangnya memang karena aku terlalu sibuk dengan kerja dan karena tempat pusatnya jauh di depok sana
(aku di solo), maka aku jarang aktif terjun ke lapangan
sesuai visi misi ku waktu mendaftar Jilbab Care, aku ingin tiap bulan Jilbab Care ada donasi masuk untuk menyumbang jilbab dan pakaian syar'i untuk yang memerlukan, aku hanya aktif lewat donasi ini saja
yang alhamdulillah bisa aku kirimkan ke pusat tiap bulannya, meski tak terlalu banyak, tapi rutin.
Lewat mereka aku mengenal banyak hal dan ilmu yang bermanfaat
dan karena mereka aku lebih mudah menjaga keistikomahan :)

dan saat itu juga aku mulai mengkondisikan orang tuaku pada 'hidup baru' ku ini..
orang tua ku harus mengetahui bahwa anak perempuannya sedang proses menjadi muslimah yang benar
dan ibu pun akhirnya dapat mengerti, begitu juga bapak yang malah kelihatan lega :)
dan perlahan aku mengatakan pada bapak ibu bahwa aku tak lagi mau pacaran
usiaku saat itu memang sudah usia nikah, yaitu 25 menuju 26 :-)
mungkin ibu cemas juga karena aku belum punya pacar
tapi aku jelaskan bahwa aku ga akan berpacaran, jika Ibu bapak ada calon untukku
aku mau dijodohkan saja, syaratnya hanya satu, pria sholeh :-D
tidak tahu malunya aku, padahal belum juga jadi wanita sholehah....

waktu berjalan, beberapa kali aku dikenalkan dengan seorang laki-laki pilihan Ibu
tapi entah kenapa Ibu sendiri yang merasa tak cocok dengan beliau
yang pasti, aku menyerahkan pada Bapak Ibu saja untuk kebaikan bersama
Saat itu, aku merasa, mungkin orang tuaku sudah menginginkan aku menikah
karena itu aku lalu mulai membeli banyak buku tentang menikah menurut Islam
buku-buku itu di antaranya karya Ustadz Salim A Fillah dan beberapa buku lain
ada pula buku tentang psikologi wanita dan pria, bagaimana menjaga hubungan yang baik antar suami istri
rasanya malu sekali baca buku-buku semacam itu :') tapi semakin mendambakannya.

Aku selalu berdoa kepada Allah agar Allah mempertemukan aku dengan jodoh terbaik atas kehendakNya.
Semoga Allah mempertemukan dengan ia yang mencintai Nya.
Semoga Allah mempertemukan aku dengan jalan yang baik dan menikah secara syar'i.
Doa dan terus berdoa seusai salat.

Suatu ketika aku di telpon Ibu, ditanyakan apakah minggu ini aku akan pulang.
Aku memang berencana untuk pulang, dan saat aku menanyakan ada apa, Ibu hanya menjawab tak ada apa-apa, hanya ingin tahu saja.
Saat aku tiba di rumah...




bersambung...

Monday, January 27, 2014

Book Review: Semangat dan Gairah Orang-orang Beriman

January 27, 2014 0 Comments



Book Review: Semangat dan Gairah Orang-orang Beriman
by: Harun Yahya


Semangat dan gairah orang-orang beriman. Mereka memiliki semangat untuk terus meningkatkan level keimann mereka, level taqwa mereka, tidak lalai, tidak malas, dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk memperoleh ridha Nya. Ridho Allah adalah tujuan utama, impian tertinggi, karena di sanalah cita-cita seorang muslim tertambat, yaitu harapan memasuki surga Allah. Di negeri akhirat, kita hanya dihadapkan pada dua macam kehidupan, yaitu sengsara di neraka atau bahagia di surga. Sungguh, ini bukan hanya sekedar pilihan saja, melainkan pilihan yang diikuti banyak konsekuensi. Surga dan Neraka juga bukan hanya dongeng saja, yang bahkan kita tak bisa membayangkannya apalagi memikirkannya barang sekejap. Padahal ancaman neraka itu nyata, keindahan surga itu hakiki, dan kematian itu dekat! 

Bertanyalah pada diri kita!Mengapa kita takut mati? bukankah karena takut amal kita tak cukup untuk membeli surga Allah? bukankah karena merasa banyaknya dosa kita tak mampu menyelamatkan kita dari azab Allah? Namun, mengapa dalam beribadah meraih ridho Nya kita lalai? kita tak bersegera? kita tak memiliki semangat sebagaimana saat kita mengejar keinginan duniawi? 

Semangat dan gairah Orang Beriman menunjukkan pada kita apa yang seharusnya kita kejar sebagai seorang muslim. Sesungguhnya Allah melihat usaha kita meraih ridho Nya, meski itu kebaikan yang hanya sebesar Atom. Tapi Allah juga tak lalai pada kemaksiatan kita pada Nya, meski hanya sebesar Atom. Orang beriman tahu bagaimana ia harus menggunakan waktunya, menghabiskan hidupnya, membelanjakan hartanya, mendayagunakan tubuhnya, hanya demi satu tujuan, yaitu Ridho Allah. Setiap detik adalah pengingat, jika kita ingat untuk apa kita hidup, setiap detik... maka InsyaAllah, kita tak akan terjerumus dalam kelalaian barang sekejap saja.

Wednesday, January 22, 2014

Book Review: Pesona AlQur'an

January 22, 2014 0 Comments

Book Review: Pesona AlQur'an
by Harun Yahya




Sesuai dengan judulnya, Pesona Al-Qur'an :) Buku ini memaprakan betapa mempesonanya Al-Qur'an. Dan memang begitulah! 
Al-Qur'an membuktikan dirinya bahwa ia sungguh asli bersegel dari Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam Semesta. 
Al-Qur'an banyak mengungkap misteri-misteri kehidupan yang baru manusia baru bisa menemukan pembuktiannya pada abad 20, setelah teknologi menjadi semakin canggih. Seperti bagaimana hujan terbentuk, bagaimana isi kedalaman lautan, bagaimana janin berkembang dalam tubuh seorang Ibu, dan apa yang menentukan kelamin bayi,semua telah ada ilmunya dalam Al-Qur'an sejak 14 abad yang lalu. Sementara para scientist baru menemukan jawabnya di abad 20! Bagaimana mungkin Rasulullah Muhammad salallahu alaihi wassallam mampu menceritakan bagaimana janin terbentuk, dari mana asalnya, apa yang menentukan jenis kelamin bayi, padahal ia seorang ummi (buta huruf). bagaimana Rasulullah mampu membacakan bagaimana awan, hujan, dan besi berasal padahal ia tak memiliki ilmu tentang astronomi dan oceanografi? semua jawabannya hanya satu, karena Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah. Wahyu itu tertuang di dalam Al-Qur'an! dan banyak sekali kejadian lain yang diungkapkan dalam Al-Qur'an yang baru bisa dibuktikan oleh manusia setelah abad 20.

Saturday, January 18, 2014

Review Buku : Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur

January 18, 2014 0 Comments

Review Buku
Berpikirlah Sejak Anda Bangun Tidur
by Harun Yahya

 



Buku ini mengajak kita untuk memikirkan apa pun yang kita lihat di sekitar kita. Bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dengan begitu sempurna. Seperti tubuh kita yang jantungnya tak berhenti berdetak saat kita tidur, yang bahkan segala sesuatu dalam tubuh kita bergerak dengan sendirinya untuk kelangsungan hidup kita tanpa kita perintahkan. 

Dan pernahkah kita berpikir bahwa seluruh dunia dan alam semesta ini diciptakan semata mata untuk manusia saja?seperti tumbuh tumbuhan, hewan dan bahkan tata surya, semua diciptkan untuk menjaga agar manusia tetap hidup.
manusia hidup diberi akal oleh Allah untuk berpikir dan mengimani kekuasaan Allah. Mengenali tanda tanda adanya Allah. bahwa manusia dan segala makhluk hidup di dunia ini diciptakan sempurna oleh Allah agar mereka bersyukur pada Nya. 
Buku ini secara umum menjelaskan hal-hal mengenai sempurnanya Allah dalam menciptakan seluruh makhluknya. Dan tentu saja untuk menyangkal teori Darwin bahwa manusia dan makhluk hidup di dunia ini berasal dari hasil evolusi. Manusia tidaklah berasal dari kera. Burubg juga tidak berasal dari ikan dan reptil. Sejak awal mereka diciptakan dengan bentuknya yang unik dan sempurna untuk menopang kelangsungan hidup meraka.
Harun Yahya memaparkannya dengan sangat menarik dan membuat kita menyadari hal hal kecil yabmng bahkan tak pernah terlintas dalam pikiran kita. Buku ini membuat kita banyak bersyukur :)

Tuesday, January 14, 2014

Book Review: Keikhlasan dalam Telaah Al-Qur'an (Sincerity Described in The Qur`an)

January 14, 2014 0 Comments

by Harun Yahya






Kehidupanku saat ini sedang sangat dekat dengan peristiwa peristiwa yang dipaparkan dalam buku ini. Dari permasalahan yang dihadapi di rumah, sebagai istri maupun tetangga, di kantor sebagai pribadi, rekan maupun bawahan, dan dalam kehidupan sosial dalam solidaritas dakwah dan keagamaan di jejaring sosial. 
Semua hal yang ingin saya tahu, yang menguatkan saya, yang memberi masukan pada saya dan menanamkan banyak ilmu ada di buku ini. 
Meskipun banyak mengutip dari buku karya Baiduzaman Said Nursi, buku ini kaya dan khas harun yahya. Memaparkan dengan apik dan detail makna keikhlasan yang akan banyak menyentil tiap pribadi kita untuk memperbaiki niat, memperbaiki amalan dan memperbaiki tujuan kita melakukan amal tersebut. 
Apakah kita sudah sungguh sungguh melakukan amalan hanya karena Allah semata?memang tidak bisa instan, ini sungguh tingkatan tertinggi yang bisa dicapai setiap manusia, yang dulu hanya bisa dicapai oleh generasi terbaik di masa Rasulullah! 
tapi apakah ini mustahil bagi kita?tidak... kita bisa. pasti juga bisa. meskipun tidak sama kadarnya dengan para sahabat yang berjuang bersama Rasulullah. tapi kita hidup untuk memperjuangkan agar sunnah Rasulullah tetap hidup... dan terus memperbaiki, meluruskan niat sampai kita sungguh murni melakukannya karna Allah semata :') 
insyaAllah.

Thursday, January 9, 2014

Tentang Pernikahan dan Jilbab bagian 3

January 09, 2014 0 Comments
Alhamdulillah kembali single, meskipun harus bergulat untuk move-on..
memang tidak semudah yang dibayangkan...
namun aku merasa memang harusnya beginilah jalannya
kami harus menjalani hidup masing-masing
mempelajari lagi yang pernah terlupakan...
mengejar dan meraih lagi taufik dan hidayah yang pernah didapatkan..

Satu tahun berlalu sejak itu,
dan tahun itu adalah tahun perjuangan...
melawan segalanya, dari mencoba hidup dengan bahagia dengan berbagai cara
menemui kawan-kawan baru dan menenggelamkan diri dalam media sosial
sungguh ini cara yang keliru!
tapi entah kenapa saat itu, aku yang merasa dekat dengan Allah
yang merasa mengaji dan memutuskan banyak hal didasari agama
tapi jatuh dalam lubang yang aku tak tahu mengapa
memuja idola korea, membeli album yang sangat banyak, menghabiskan uang untuk menonton konser
dan hal-hal gila lain yang menurutku, tak masuk akal memang...
semua seperti pelarian yang salah
karena aku menempuh cinta yang salah dan setan menggelayutiku
lalu aku bukannya kembali pada Allah, tetapi malah mengikuti tipu dayanya!

sedang di seberang sana, lelaki yang aku putuskan atas nama Allah
yang aku berpesan padanya, "Jika Allah mentakdirkan kita berjodoh kita akan bertemu", lalu
kuungkapkan kalimat "sekarang lebih baik kita masing-masing mendekat pada Allah,
semoga Allah mempertemukan kita dengan jodoh yang sesuai dengan kehendakNya"
Ia berubah menjadi orang yang berbeda.
Aku tak sengaja melihat postingannya di timeline Facebook...
ia memposting segala tentang Islam, mempelajari Islam..
tapi aku??
sampai setahun aku terus bergelut dengan dunia fangirling yang menggila
dan aku lupa siapa aku.

waktu itu, entah ada apa, aku tiba-tiba tertarik untuk memfollow sebuah akun milk ustadz muda
seorang muallaf, yang saat itu telah menulis 3 buah buku.
entah kenapa aku tertarik dengan yang ia syiarkan
aku ingat zaman dulu pertama kali mengenal Islam (padahal saya muslim dari lahir)..
ingat betapa gegap gempitanya,, lalu aku tersadar...
aku pun membeli semua bukunya, dan salah satu bukunya yang sangat nendang adalah "Beyond The Inspiration"
buku ini... sungguh-sungguh melampaui inspirasi! sungguh!
aku terlempar, terbanting, terantuk, terjatuh guling-guling dari puncak bukit menuju jurang dalam!
lalu aku terbangun.....
Saat itu begitu banyak yang berkecamuk dalam pikiranku...
lalu saat itu pulalah aku putuskan untk berjilbab syar'i.

saat mulai memakai rok, berjilbab panjang, bergamis, berkaos kaki...
aku menemukan kembali diriku...
diriku yang dulu merasa sangat nyaman dengan seluruh pakaian ini!
diriku yang dulu begitu rindu untuk membaca kisah-kisah Nabi dan sahabat
diriku yang dulu begitu haus akan Islam!

ya Allah.. kemana saja aku?
aku pun harus malu pada pakaian takwaku jika aku masih memuja idola Korea.
maka aku buang semua. Aku mulai menerapkan buku "Habits"
dengan mengunfollow akun tentang korea, menggantinya dengan akun-akun Islam
mengganti kebiasaan menonton video Korea dengan membaca buku-buku Islam
lalu disinilah.. aku mulai merasakan ketenangan....


Bersambung






Thursday, December 26, 2013

Tentang Pernikahan dan Jilbab bagian 2

December 26, 2013 0 Comments
Kehidupan mengenal Allah dimulai saat si teman sebangku memutuskan sang pacar karena Allah.
Ia pun mengambil langkah selanjutnya untuk 'move on', yaitu masuk ROHIS SMA.
tiba-tiba saja ia pakai jilbab panjang, semua celana jeans ia buang (diberikan orang) katanya.
tanpa sepengetahuanku, ia mendaftarkan aku juga ke ROHIS.
Suatu siang ia memberitahuku bahwa nanti sepulang sekolah ada jadwal liqo yang harus kuikuti.
doeng?
Liqo? apa itu?
dan entah kenapa, aku iyakan saja. Ya, aku juga ingin belajar agama, karena aku berjilbab.
Sebelumnya, aku benar-benar mengenal Islam sebatas solat, mengaji qur'an, dan berdo'a.
lalu di Liqo, aku mengenal banyak hal... menghafal, ibadah sunnah, cara berpakaian, cara bergaul..
segalanya tentang Islam..
hanya saja, memang, saat itu banyak ketidaknyamanan dalam halaqah..
karena aq "bekas" orang pacaran...
entah mengapa saat itu, mungkin karena masih remaja, tidak semua teman ROHIS bisa menerima bahwa aku dulunya anak pacaran..
kadang mereka terlihat cuek padaku atau sedikit menyindir, dan banyak bertanya
atau mungkin hanya perasaanku saja mereka begitu :'(
tapi dalam Liqo aku sering bertanya, apa yang dimaksud pacaran yang dilarang oleh agama itu?
apakah pacaran secara ikatan atau secara tindakan?
aku pernah mengajukan kasus, bahwa aku punya seorang teman laki-laki yang setiap pulang sekolah kami sering bareng, karena kami tetangga, tapi kami tidak ada ikatan pacaran
lalu pada saat yang sama aku punya pacar yang kami jauhan karena si pacar kuliah di tempat yang jauh
manakah yang disebut pacaran? antara aku dan teman lelaki yang selalu pulang bersama itu, atau
aku dengan pacarku yang tak pernah bertemu?
yang disebut pacaran itu ikatannya atau aktivitasnya?
lalu dijawab oleh murobbi ku bahwa keduanya salah,
aku salah karena berkhalwat dengan teman laki-lakiku
dan aku salah karena memiliki ikatan yang tidak sah dengan seseorang yang bukan mahrom!
aku jadi tahu banyak hal tentang hubungan laki-laki dan perempuan :)
sejak saat itu, aku benar-benar menjaga untuk tidak berkhalwat ataupun bersentuhan dengan lawan jenis bukan mahrom
dan menjulurkan jilbabku lebar-lebar juga memakai kaus kaki.

Aku saat itu merasa bahagia menjalani hidup baruku yang terasa begitu dekat dengan Allah.
Aku mengaji, membaca dzikir pagi sore, salat malam, salat dhuha, setor hafalan (juz 30) tiap minggu
dan banyak membaca buku-buku agama seperti kisah Nabi sampai aku merasa sangat merindukan Rasulullah
merasa berterima kasih pada teman sebangkuku itu.
sayangnya saat kelas 3 kami berpisah kelas,
dan ternyata sedikit-sedikit ini berpengaruh pada keseharianku..
ada beberapa rutinitas yang aku tinggalkan, seperti hafalan yang macet sampai surat Al Bayyinah
dan banyak hal,,,
tetapi saat itu aku sudah punya kebiasaan ibadah sunnah yang banyak dan cukup ritin bahkan hingga sekarang.

Setelah lulus SMA, lebih banyak lagi hal berubah...
entah karena aku tidak benar-benar ber-hijrah karena Allah atau entah kenapa
aku futur... aku banyak kehilangan jejak-jejak hidayah yang susah payah aku raih
saat itu diperparah dengan kabar bahwa si teman sebangku kembali berpacaran dengan mantannya
aku runtuh... aku benar-benar runtuh saat itu..
ia yang pertama membuat gegrakan itu, mengenalkanku pada ROHIS, memberiku banyak nasihat
mengajakku memakai jilbab syar'i dan semuanya... berpacaran lagi??

pada saat yang sama, aku didekati seorang laki-laki
aku sangat benci padanya, kami berteman sebelumnya, tiba-tiba ia menyukaiku
dan aku mati-matian menghindarinya karena aku tak mau terjerumus lagi dalam pacaran
aku tak mau banyak dosa lagi
tapi ia tak paham, aku berjilbab panjang... ia tak paham..
sampai 2 tahun berlanjut, ia tetap sama, datang ke rumah, menelpon, mengirim sms, email, friendster dan semua media..
akhirnya pun aku terjatuh lagi...
apalagi sejak mendengar berita bahwa mantan pacarku dulu, telah menikah
padahal ia bilang mau melamarku
aku terjatuh lagi....

Beberapa tahun berlalu sejak saat itu
aku kembali pacaran... aku kembali pada masa-masa yang membuatku sering merasa bersalah pada diriku,
dan malu pada Allah.. malu... malu...
sangat malu,,, malu karena jatuh cinta
malu karena tak bisa menghentikan nafsuku mencintai yang selainNya bukan karena Nya
dan dalam ketidaknyamanan antara mencintai lelaki ini atau melepasnya untuk kembali beribadah pada Allah sebaik dulu??

Akhirnya 4 tahun setelah itu, aku putuskan untuk berpisah,, aku memberitahunya untuk sama-sama belajar agama saja
aku benar-benar pada puncak ketidakbisaanku...

bersambung










Wednesday, December 18, 2013

Tentang Pernikahan dan Jilbab bagian 1

December 18, 2013 0 Comments
Waktu sungguh penuh kejutan..
Pada bulan Februari lalu, aku ingat masih menulis curahan hatiku sebagai seorang single
single yang bisa dibilang "happy?' dengan tanda tanya :)
belum terpikir dan terbayangkan
"kapan aku akan menikah?"
"dengan siapa aku akan menikah?"
pertanyaan-pertanyaan seputar itulah yang terlintas dalam otakku sepanjang waktu.
Mungkin pertanyaan ini juga menghinggapi hampir semua wanita usia menikah yang masih melajang.
Apalagi saat itu aku sedang proses "hijrah" menjadi seorang muslimah yang belajar taat pada Allah.
artinya, aku tidak memiliki "pacar", tidak mau "pacaran" dan segala bentuk kedekatan laki-laki dan perempuan non-mahrom untuk mendapatkan seorang calon imam :)
karena calon imam yang baik tentu tidak akan melakukan aktivitas ini.
Jadilah sedikit sedikit ini membuatku galau, karena aku pun belum siap melakukan "ta'aruf"
belum siap karena aku baru saja belajar
belum siap karena masih merasa belum pantas menjadi istri seorang sholeh
belum siap karena bekal akan ilmu agama ku yang minim
dan berbagai macam ke "belum siap" an lain....

Intinya, aku masih butuh banyak belajar, belajar bagaimana menjadi istri kelak
bagaimana aku akan berproses untuk mengenal sang calon imam
bagaimana aku akan bisa berproses padahal aku tak mengikuti "halaqah"
dan semua hal yang tumpuk menumpuk rasanya untuk dipelajari dan dimulai.
sementara aku seorang wanita yang bekerja, rata-rata 8 jam per hari aku habiskan di kantor
5 hari dalam semimggu,,,
dulu aku berpikir, ingin sekali ikut "halaqah" dan bertemu salihat-salihat
berteman dengan mereka, menimba ilmu pada mereka
belajar mengaji bersama, dan aktivitas-aktivitas keagamaan yang ingin aku ikuti
seperti kajian, malam bina iman takwa, lalu liqoat...
Namun ternyata, aku gagal mengatur waktuku untuk itu....
Alhamdulillah, bisa tergabung dalam sebuah komunitas yang saling menguatkan awal tahun 2013,
komunitas Peduli Jilbab.
Komunitas untuk membumikan hijab syar'i.
Di komunitas ini, meskipun aku tidak pernah sekalipun bisa bertemu mereka
tapi paling tidak, aku bisa ikut dakwah jilbab syar'i lewat facebook atau twitter
memberikan donasi rutin untuk membantu salihat yang ingin berhijab syar'i namun tak memiliki dana
dari sanalah, aku memulai menata diriku
banyak hal yang kemudian aku dapatkan.

Seiring berjalan waktu, tanpa terasa memasuki pertengahan tahun,
aku dilamar. ini cukup mengejutkan.
Sungguh, aku tak berpikir akan secepat ini doaku dikabulkan Allah.
setiap salat, aku berdoa agar Allah mempertemukan aku dengan jodohku
jodoh yang bahkan aku tak tahu akan datang dari mana
aku kenal dari mana dan bagaimana?
yang aku tahu, aku hanya mencoba selalu memantaskan diri.
Suami seperti apa yang aku dambakan, maka aku harus menjadi seperti itu terlebih dahulu.
Karena itu, aku berdoa, rajin membaca buku tentang pernikahan, rumah tangga dan bekal-bekal lain
meskipun saat itu aku tak tahu kapan aku akan menikah!
bagiku, itu adalah wujud ikhtiar... wujud ikhtiar selain daripada doa.

dan ternyata, yang datang adalah dia.
Dulu, aku benar-benar bukan muslimah yang baik-baik
memang aku memulai berjilbab sejak kelas 1 SMA, kira-kira 1,5 tahun sejak aku baligh
tapi waktu itu hanya karena alasan sederhana: tak ingin banyak yang mengganggu
dan satu alasan lagi: berjamaah dengan sahabat-sahabat.
sungguh, saat itu tidak ada alasan syar'i untuk berjilbab (seingatku)
tapi keinginan berjilbab ini aku utarakan pada Ibu sejak aku masih di bangku kelas 3 SMP
Alhamdulillah tak lama setelah itu, Ibu pun berjilbab karena malu jika keduluan anak perempuannya
Bapak pun sangat mendukung keputusan itu
berjilbab bukan berarti membuatku lebih santun
waktu itu memang aku tidak banyak belajr Islam, tidak mengetahui banyak tentang syariat
karenanya aku pacaran saat kelas 1 SMA
berujung putus saat naik kelas 2 SMA,
alasan saat itu sebenarnya sangat bagus, pacarku yang masuk STAN saat itu mengatakan
"dalam islam ga ada pacaran, jadi kita berteman saja."
singkat dan padat. Jelas. dan tentu saja aku setuju.
Lalu ia bilang akan melamarku setelah lulus nanti.
(namun sekitar 4 tahun setelah itu dia menikah dengan teman sekantornya pada akhirnya :-D)

Saat itu, aku menyadari sesuatu, bahwa, ya, pacaran itu dilarang dalam Islam.
Saat baru saja putus dengan pacarku itu aku bercerita pada teman sebangkuku, bahwa aku putus.
Lalu aku menceritakan juga padanya alasan kami putus: bahwa pacaran itu tidak ada dalam Islam.
alasan yang waktu itu hanya aku pahami secara kalimat saja, tapi tanpa makna.
Tanpa disangka, teman sebangkuku ini, yang waktu itu juga pacaran, langsung memutuskan hubungan dengan pacarnya pada hari berikutnya, dengan alasan sama!
SubhanAllah...

bersambung :)